3 Hal Menarik Di Balik Rumah Pitung

Dari sekian banyak rumah adat dki jakarta yang ada, yang cukup terkenal adalah rumah betawi Si Pitung. Sebagian besar penduduk Jakarta harus tahu legenda asli Betawi, Si Pitung. Seorang pendekar pedang yang merupakan juara seni bela diri adalah seseorang dengan kehidupan sosial yang tinggi, yang selalu membela kelompok yang dianiaya. Maka jangan heran jika disebut “Robin Hood of Betawi”.

Panggung coklat-merah, terletak di distrik Marunda di Jakarta Utara, dikenal sebagai Rumah C. Petung.

Banyak orang percaya bahwa rumah itu dihuni oleh legenda Betawi, seorang seniman bela diri, Si Petung.

Namun, tahukah Anda bahwa Se Bitung rupanya berhenti di rumah Bugis dan tidak tinggal di sana?

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Kompas.com Sukma Wijaya, tim pendidikan dan media di Museum Kebaharian di Jakarta, yang mengawasi pengelolaan Rumah Si Pitung.

“Apakah dia berhenti, atau dia teman Haji Safi ad-Din, hanya karena penyembunyiannya atau keinginannya untuk mencuri? Jadi itu masih merupakan misteri, dan dia pasti berhenti di sini,” katanya.

Pitung, yang nama aslinya adalah Ahmed Nitikusumah, sudah dikenal sebagai pencuri yang berbakat.

Marunda Polo adalah perhentian terakhir di Bitung, setelah melakukan perjalanan melintasi Belanda melawan Belanda. Di daerah ini ada rumah panggung yang sekarang dikenal sebagai Casa Si Pitung. Berikut ini fakta tentang Casa Si Pitung dan kisah di baliknya.

1. Pemilik asli rumah Si Pitung adalah Haji Saifuddin

Bitung lahir di daerah Rawa Pelung, Jakarta Barat. Pemilik asli rumah di wilayah Maronda adalah seorang pedagang kaya bernama Haji Saifuddin. Kisah ini memiliki dua versi. Beberapa mengklaim bahwa pemilik rumah kapten diserang pada tahun 1883 dan kemudian diakui sebagai milik Pettong. Versi lain mengklaim bahwa Seif Al-Din dan Pettong telah mencapai kesepakatan tentang kepemilikan rumah ini. Karena Pitung biasanya berhenti di rumah ini, itu disebut Pitung House.

2. Masjid Dunia atau Masjid Si Petung

Selama penahanannya, Bitung biasa mengirim surat yang ditujukan ke administrasi Masjid Dunia, Maronda. Masjid ini telah ada sejak abad ke-17 dan konon Bitung sering digunakan untuk belajar dan berlatih seni bela diri sampai akhirnya masjid tersebut dinamai Masjid Si Pitung.

Masjid Al-Alam menampilkan arsitektur yang mirip dengan Masjid Dimak, tetapi dimensinya lebih kecil. Sebagian berpendapat bahwa masjid itu didirikan oleh Walisongo.

3. Definisi warisan budaya.

Rumah seluas 700 hektar didefinisikan sebagai Cagar Budaya (BCB), menurut peraturan DKI. 9 tahun 1999 di Jakarta, di bawah naungan Unit Manajemen Museum Maritim Jakarta dari Dinas Pariwisata Daerah. Dan budaya Jakarta.

Karena itu, karena tidak usang seiring waktu, rumah Si Pitung direnovasi beberapa kali, terutama di fondasinya. Kondisi konstruksi tidak lagi asli, hanya modelnya yang tetap sama. Item yang ditampilkan adalah duplikat, karena aslinya sudah usang.

Tidak pernah di Si Petung, inilah kisah “Petitung”

Rumah Rumah Si Pitung disebut Rumah Merah dan Coklat di atas panggung di distrik Marunda, Jakarta Utara.

Banyak orang percaya bahwa rumah itu dihuni oleh legenda Betawi, seorang seniman bela diri, Si Petung.

Namun, tahukah Anda bahwa Se Bitung rupanya berhenti di rumah Bugis dan tidak tinggal di sana?

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan Kompas.com Sukma Wijaya, tim pelatihan dan media di Museum Kebaharian di Jakarta, yang mengawasi pengelolaan Rumah Si Pitung.

Rumah itu dimiliki oleh pemilik kolam Bugis bernama Haji Safi El-Din.

“Apakah dia berhenti, atau dia teman Haji Safi ad-Din, hanya karena penyembunyiannya atau keinginannya untuk mencuri? Jadi itu masih merupakan misteri, dan dia pasti berhenti di sini,” katanya.

Pitung, yang nama aslinya adalah Ahmed Nitikusumah, sudah dikenal sebagai pencuri yang berbakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *